Everything is Wireless

week 8 antena mikrostrip May 30, 2008

Filed under: Lecture Antena 2008 — mudrikalaydrus @ 3:10 pm
 

Week 8 Matching Circuits May 30, 2008

Filed under: Lecture Saluran Transmisi 2008 — mudrikalaydrus @ 1:34 pm

Merancang rangkaian matching…examples

Slide:saltrans_presentation08

 

AQIDAH dan THARIQAH SALAF AL-’ALAWIYYIN May 28, 2008

Filed under: z-o Islam o-z — mudrikalaydrus @ 6:12 pm

Al-Habib Al-Imam Al-Qutbh ‘Abdullah b. ‘Alwi Al-Haddad, berkata : “Hendaknyalah anda membentengi (imanmu), memperbaiki dan meluruskannya sesuai dengan jalan yang ditempuh oleh golongan yang selamat di Akhirat (Al-Firqah An-Najiah). Golongan ini terkenal di kalangan kaum muslimin dengan sebutan golongan “Ahlus Sunah Wal-Jamaah“.

Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan cara-cara yang dilakukan oleh Rasul Allah saw dan Sahabat-sahabatnya.

Apabila anda perhatikan dengan fikiran yang sehat dan hati yang bersih nash-nash (teks-teks) Al Qur’an dan Sunnah yang berhubungan dengan keimanan, kemudian anda pelajari perilaku para Salaf baik Sahabat maupun Tabi’in maka anda akan tahu dan yakin bahwa kebenaran akan berada di fihak mereka yang terkenal dengan sebutan Al­-Asy’ariyah, yang pengikut Abul Hasan Al-Asy’ari, yang telah menyusun kaidah-kaidah (keyakinan) golongan yang berada di pihak yang benar serta telah meneliti dalil ­dalilnya. Itu pulalah aqidah yang telah disepakati oleh para Sahabat nabi serta generasi­ generasi berikutnya dan para Tabi’in yang saleh dan itu pulalah agidah orang-orang yang mengikuti kebenaran di mana saja dan kapan saja. Aqidah dan keyakinan itu juga dianut oleh semua ulama Tasawuf, seperti diriwayatkan oleh Abul Qasim Al-Qusyairi dalam risalahnya.

Imam Ahmad Al-Muhajir, kakek para Sadah ‘Alawiyyin, yaitu Imam Ahmad Al-Muhajir b. ‘Isa b. Muhammad b. ‘Ali b. Imam Ja’far Ash-Shadiq setelah memperhatikan munculnya berbagai macam bid’ah dan berkecamuknya berbagai macam fitnah serta perselisihan faham di negeri Irak, beliau lalu berhijrah meninggalkan negeri ini berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri yang lain hingga sampai ke Hadramaut di Yaman, kemudian beliau tinggal di negeri ini sampai wafat. Maka Allah telah memberkahi keturunannya sehingga terkenallah banyak tokoh dari keluarga ini dalam ilmu, ibadah mari’fah dan kewalian. Mereka tidak mengalami apa yang dialami oleh golongan-golongan Ahlul Bait yang lain dengan mengikuti berbagai bid’ah dan faham yang sesat. Semua itu adalah berkat niat yang suci Imam Ahmad Al-Muhajir yang telah melarikan diri dari fitnah, demi menyelamatkan agama dan aqidahnya dari pusat-pusat fitnah.

Semoga Allah membalas jasa baik Imam ini dengan sebaik-baiknya dan mengangkat derajatnya bersama datuk-datuknya yang mulia di Surga Alliyin serta memberi kita taufik untuk mengikuti jejak dan langkah mereka dalam keadaan sehat wal’afiat, tanpa merubah atau mendapat coba dan fitnah. Sesungguhnya Dialah Tuhan Maha Pengasih.

Madzhab Maturidiyah dalam hal ini sama dengan Madzhah Asy’ariyah. Maka setiap orang yang beriman hendaknya membentengi aqidahnya dengan menghafal (mempelajari) salah satu aqidah yang disusun oleh seorang Imam yang telah disepakati keagungannya serta kedalaman ilmunya. Saya rasa orang yang mencari pelajaran agidah semacam itu tidak akan mendapatkan selengkap dan sejelas aqidah yang disusun oleh Imam AI-Ghazzali r.a. Aqidah ini telah disampaikan pada bagian awal dari kitab “Qawa’id Al Aqo’id” dalam kitab Al-Ihya’ (Ihya’ Ulum Addin - karya Imam Al­-Ghazzali). Maka hendaklah anda menghafalnya ( mempelajarinya). Adapun jika anda kurang puas (dengan kitab itu) hendaklah anda mempelajari “Ar-risalah Al-Qudsiyah yang tersurat pada pasal ketiga dalam Kitab Ihya’ tersebut.

Dalam hal ini, hendaknya anda tidak terlalu berlebihan dalam mempelajari ilmu “Tauhid” serta tidak perlu terlalu banyak memperbincangkannya dengan semata-mata mencari hakikat (kebenaran) tentang ke Tuhanan, sebab anda tidak akan memperolehnya melalui ilmu ini. Adapun jika anda ingin mencapai tingkat ma’rifah, hendaknya anda mengikuti tharigah yang ditempuh para Salaf (pendahulu) kita, yaitu dengan berpegang teguh pada ketaqwaan baik lahir maupun batin, merenungi dan mentadabburi ayat-ayat Al Qur’an, hadits-hadits Nabi serta riwayat orang saleh, berfikir tentang kerajaan langit dan bumi dengan tujuan mengambil pelajaran dari padanya, mendidik akhlaq serta memperhalus budi yang kasar melalui latihan-latihan rohani (riyadhah), membersihkan cermin kalbu dengan banyak berdzikir, berpaling dari soal­ soal yang melalaikan dari hal-hal tersebut. Apabila telah menempuh jalan ini, Insya Allah anda akan mencapai tujuan itu serta rnemperoleh apa yang diharapkan.

Dalam beberapa pasal dalam kitabnya, Al-Imam Al-‘Aydarus menegaskan : ” Barang siapa meyakini hulul (menitisnya Ruh Allah dalam diri makhluk) atau menyatunya Tuhan dengan makhluk (wahdutul wujud), maka orang ini telah menjadi kafir“.

Dalam sebagian pasal yang lain beliau menulis : “Aqidah yang kita anut adalah aqidah Asy’ariyah dan madzhah kita dalam Fiqh (hukum-hukum Agama) adalah Madzhab Syafi’i, sesuai dengan Kitab Allah (Al Qur’an) serta Sunnah Rasul Allah”.

Pada sebagian Risalah yang lain beliau menulis : “Allah adalah Tuhan yang hidup kekal (hayyun) dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya (Qayyum),. Dialah yang mewujudkan segala yang ada “. Pernyataan demikian sesungguhnya merupakan sanggahan bagi mereka yang meyakini “Wahdatul Wujud” menyatunya hamba dengan Tuhan, bagi mereka yang mengetahui maksud-maksud filsafah Yunani, India dan Majusi. Imam Al-‘Aydarus juga menyatakan : “Aqidah kita adalah aqidah Asy’ariyah, Hasyimiyah, Syar’iyah, sesuai dengan Madzhab Syafi’i yang menganut Sunnah dan Tasawuf”. Beliau sering mengulang-ulang pernyataan semacam ini sehingga cukup meyakinkan. Apa yang kami sebutkan di atas merupakan ringkasannya.

Habib ‘Abdullah Al-Haddad juga telah menyusun aqidah yang ringkas lagi lengkap dimana penulis (Sayyid ‘Alwi b. Thahir Al-Haddad) telah menulis pengantarnya, antara lain sebagai berikut :

“Dan kami telah mengawalinya dengan aqidah yang para salaf (pendahulu­ pendahulu kita) mengajarkannya kepada keluarga, sanak saudara serta para tetangga, baik yang jauh maupun yang dekat, serta orang-orang awam di negeri mana mereka tinggal. Aqidah itu besar pengaruhnya, agung manfa’atnya, bahkan merupakan pusaka iman yang mengandung arti penyerahan dan ketundukan mutlak (Kepada Tuhan) serta penerimaan penuh atas apa yang telah disampaikan oleh Nabi utusan Allah yang mulia S.A.W. berupa ajaran Islam yang suci”. Pada kitab itu Imam Al-Haddad menyatakan : “Penutup kitab ini adalah sebuah aqidah yang ringkas dan sangat bermanfa’at, Insya Allah, sesuai jalan yang ditempuh oleh Al-Firqah An-Najiah (golongan yang selamat di Akhirat), yaitu golongan Ahlussunah Wal Jama’ah, golongan yang merupakan Assawad Al-A ‘dham (mayoritas umat ini).

Di dalam kitab “Al-Masyra “Arrawiy” dinyatakan : Dahulu matahari ilmu dan kewalian Al-Habib Al-Imam ‘Abdullah Al-‘Aydarus apabila hendak mengikat janji murid yang hendak mengikuti thariqatnya, beliau menyuruh murid itu supaya terlebih dahulu bertaubat dan beristighfar (mohon ampun) kemudian murid itu disuruh mengatakan : Aku bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah dan tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab suci, para Rasul utusan Allah, hari akhirat dan taqdir yang baik dan yang buruk dari Allah. Aku beriman dengan adzab kubur dan kenikmatan di dalamnya, pertanyaan kedua malaikat (Munkar dan Nakir), hari kebangkitan, timbangan, shirat, surga dan neraka. Aku telah ridha (mengakui) Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul utusan Allah. Aku telah ridha (senang dan puas) engkau sebagai guru dan perantara penunjuk jalan kepada Allah SWT.

Kemudian beliau berkata : “Dalam soal furu’ (cabang agama yang berhubung dengan fiqh) kita menganut Madzhab Imam Syafi’i dan dalam bidang ushul (ilmu yang berhubungan dengan Tauhid dan ketahanan/aqidah) kita menganut Madzhab Imam Abul Hasan Al-Asy’ari, sedang thariqat kita adalah tharigat ahli-ahli Tasawuf. Demikian pula dinyatakan oleh Al-Quthb Al-‘Aydarus dalam kitabnya Al-Juz Al-Latif.

Dalam sepucuk surat yang ditulis oleh Habib ‘Abdullah b. ‘Alwi Al-Haddad kepada saudaranya Al-Habib Hamid yang tinggal di India, beliau menulis : “Sesungguhnya telah sampai berita kepada kami betapa hebat fitnah yang menyesatkan yang telah terjadi di sana (India), malapetaka dan bencana yang menimpa negeri itu secara terus menerus, serta perselisihan dan perpecahan yang terjadi di antara penduduknya di mana tidak pernah ada kerukunan. Adapun yang lebih buruk dan lebih keji dari semua itu adalah apa yang telah sampai kepada kami yaitu yang timbulnya kebencian terhadap kedua sesepuh Islam (Asy-Syaikhain) Abu Bakar Ash-Shiddiq dan ‘Umar Al-Faruq Radhia Allahu A’nhuma sebagai dianut oleh golongan “Rafidhah yang tercela, baik ditinjau dari segi syari’ah, maupun menurut akal sehat. ‘Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi raji’un. Hal ini merupakan musibah yang besar dan malapetaka yang sulit dihilangkan.

Dalam sepucuk surat lain kepada salah seorang muridnya, Habib ‘Abdullah b. ‘Alwi Al-Haddad menulis : “Menyebutkan Madzhab atau faham lain tidaklah berarti keharusan mengikuti Madzhah atau faham itu. Adalah merupakan kebiasaan para pengarang dan para ulama untuk menyebutkan dan menukil Madzhab-madzhab lain dan mengutip ucapan-ucapan mereka, baik yang sejalan maupun yang bertentangan dengan mereka, adapun yang terlarang dan tidak dapat dibenarkan adalah (berkeyakinan) membatasi hak menjabat kedudukan Imaman hanya pada mereka saja, seperti dinyatakan oleh golongan yang bertentangan dengan kita. Semoga Allah memberi taufiq pada kita semua dan menjadikan kita di antara orang-orang yang diberi petunjuk kepada kebenaran dalam soal-soal yang diperselisihkan orang. ”

Habib ‘Alwi b. Ahmad b. Hasan b. ‘Abdullah Al-Haddad menulis sebuah komentar bait syair datuknya Habib ‘Abdullah Al-Haddad, berikut :

“Madzhab yang lurus aku ikuti sesuai Kitab Allah dan Sunnah Nabi”. Habib Ahmad tersebut menulis “Madzhab lurus yang dimaksud adalah Madzhab Ahlussunah Wal Jama’ah, aku mengikuti Madzhab itu seperti bapak-bapakku dan kakek-kakekku dan Nabi Muhammad, ‘Ali, Hasan dan Husein sampai pada seluruh salaf Al-‘Alawiyyin. “

Guru besar kami Habib Muhsin b. ‘Alwi Assegaf dalam kitabnya : “Ta’rif Al-Khalaf Bi Sirat Al-Salaf’ telah menulis pernyataan yang hampir sama dengan yang apa yang kami kemukakan tadi. Kemudian beliau mengutip dari kitab : “Ghurar Al Baha’ Al Dhawi” karya ulama ahli Hadits terkenal Allamah Sayyid Muhammad b. ‘Ali Kharid Al-’Alawi Al-Husaini sebagai berikut : Sayyid ‘Ubaidillah b. Ahmad Al-Muhajir b. ‘Isa beserta anak cucunya mereka adalah para Syarif keturunan Imam Al-Husain yang hidup di negeri Yaman (Hadramaut). Jarang ada orang seperti mereka, Tharigah para Syarif ini adalah Madzhab Ahlussunah Wal Jama’ah, akhlak mereka mengikuti akhlak Nabi. Orang yang insaf dan sadar akan mengakui bahwa mereka benar-benar para Sayid dan tokoh-tokoh mulia, budi luhur, Habib Muhsin tersebut kemudian mengutip dari Habib ‘Abdullah Al-Haddad, katanya : Ada dua orang yang sangat besar jasanya terhadap keluarga Al-Ba’alawi, yaitu :

PERTAMA, Sayyidina Ahmad Al-Muhajir b. ‘Isa yang telah membawa mereka keluar meninggalkan fitnah dan bid’ah (di negeri Irak) dan membawa mereka hijrah ke negeri Yaman (Hadramaut).

KEDUA adalah Al-Fagih Al-Muqaddam yang telah membebaskan mereka menyandang senjata sehingga mereka dapat berkonsentrasi untuk ilmu dan da’wah. Para salaf dahulu melarang orang mendalami tauhid. mereka menerima ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits-hadits Nabi SAW. yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah SWT. serta ayat-ayat mutasyabihat lainnya dengan penyerahan bulat-bulat, tanpa rnempersoalkannya secara njelimet disertai pensucian bagi Allah dengan sesuci-sucinya dari segala sifat kekurangan dan cela seraya mengagungkan-Nya dengan seagung-agungnya.

Habib Abdullah Al-Haddad berkata :”Kita berpegang dengan ajaran-ajaran Imam Al-Asy’ari karena beliau berpendirian : Beriman kepada Allah, kepada ayat-ayat Allah, kepada para Rasul utusan Allah sesuai apa yang dimaksud dan dikehendaki oleh Rasul Allah”. Demikian kurang lebih ucapan beliau yang masih dapat kami ingat.

Dalam kitab Al-lbanah karya Imam Al-Asy’ari yaitu sebuah kitab yang membahas soal-soal aqidah lengkap berdasarkan aqidah yang menjadi pegangan salaf, baik para Sahabat maupun para Tabi’in, Imam Asy’ari menulis : “Ringkasan pendirian kami adalah : Kita mengakui Allah, mengakui para Malaikat, Kitab-kitab (suci), Rasul-­rasul serta ajaran yang mereka sampaikan dari Allah, serta riwayat-riwayat yang disampaikan oleh orang-orang yang terpercaya dari Rasul utusan Allah, semua itu tidak ada sedikitpun yang kami tolak. Kita juga tidak mengada-ada dalam agama Allah sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah (yakni sesuatu yang tidak ada dasarnya dalam agama), atau mengatakan sesuatu terhadap Allah yang tidak kami ketahui hakikatnya“. Kata beliau pula “Al-Qur’an kita terima sesuai dengan arti yang tersurat, kita tidak dapat mengartikan lain kecuali dengan hujjah (dalil) yang jelas”.

Anda juga hendaknya berkeyakinan bahwa apa yang dinyatakan oleh para Salaf (pendahulu-pendahulu) kita bahwa sejak datuk-datuk mereka hingga kini mereka adalah penganut Madzhab Ahlussunah Wal Jama’ah adalah nyata dan benar, tidak dapat dita’wilkan atau ditakhsiskan dan tidak dapat pula disanggah oleh mereka yang hendak menyanggah, atau kritik dan pendustaan orang-orang yang kebelinger, dan bahwa apa yang dinyatakan mereka itu benar-benar diterima oleh mereka secara turun-menurun dari kakek kepada cucu dan ayah kepada anak serta dari mereka yang terdahulu kepada mereka yang datang kemudian, dikuatkan pula dengan kutipan-kutipan yang jelas melalui silsilah riwayat (sanad) sesuai kaidah-kaidah ilmu Hadits. (Ulama Ahlul Bait menerima ilmunya dari para Sahabat dan Tabi’in, para Sahabat dan Tabi’in juga menerima ilmunya dari Ahlul Bait.

Al-Hafidh Abu Nu’aim meriwayatkan dalam kitabnya “Hilyalul Aulia” yaitu Hiasan para wali, beliau berkata “Telah datang kepadaku, segolongan penduduk negeri Iraq. Mereka mencela Sahabat-sahabat Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman.

Setelah selesai memaki-maki, Imam ‘Ali Zayn Al-‘Abidin balik bertanya kepada mereka : “Maukah kalian menerangkan kepadaku, apakah kalian termasuk orang-orang yang melakukan hijrah pada tahap awal (Al-Muhajirun Al-Awalun) karena diusir dari kampung halaman mereka serta menuntut anugrah dari ridha Allah dan Rasul-Nya, sedang mereka itulah orang-orang yang benar ! “

Mereka menjawab ” Bukan “.

Imam ‘Ali Zayn Al-‘Abidin kembali bertanya : “Adakah kalian penduduk negeri Madinah yang telah beriman (Kaum Anshar) sebelum datang kaum Muhajirin, mereka mencintai orang-orang yang hijrah kepada mereka dan tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada kaum Muhajirin, serta mengutamakan kaum Muhajirin itu daripada diri mereka sendiri meskipun mereka dalam kesusahan? Dan barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung? Apakah itu kalian?”

Mereka kemudian menjawab : “Bukan“.

Imam ‘Ali Zayn Al-‘Abidin kemudian berkata : “Kini kalian telah mengakui tidak termasuk kedua golongan yang disebutkan Allah dalam kedua ayat itu. Aku juga bersaksi kalian tidaklah termasuk golongan yang disebutkan dalam ayat ini. Dan mereka yang datang kemudian sesudah mereka itu berdo’a : Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah dahulu beriman dan janganlah engkau biarkan kedengkian (bersemayam) di dalam hati kami terhadap orang-orang yang telah beriman, Ya Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun Maha Penyayang “. Enyahlah, kata Imam ‘Ali Zayn Al-‘Abidin, Semoga Allah menindak kalian.

Diriwayatkan pula dengan sanadnya kepada Yahya bin Sa’id, katanya : Saya mendengar ‘Ali bin Husain menjawab pertanyaan orang-orang yang datang mengerumuninya (katanya) :

Cintailah kami sesuai dengan ajaran Islam, semata-mata untuk Allah. Sesungguhnya makin lama cinta kalian (yang melampaui batas ini) malah menjadi a’ib yang memalukan bagi kami “.

Demikian itulah sebagian pernyataan yang diriwayatkan dari Sayyidina ‘Ali Zayn Al-‘Abidin Ibn. Al-Husain.

Abu Na’im juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Ja’far Muhammad Al-­Bagir, katanya :

Saya bertanya kepada Abu Ja’far (Al-Bagir) tentang hukum menghias pedang.

Beliau menjawab : “Tidak mengapa (boleh). Abu Bakar Ash-Shiddiq dahulu menghias pedangnya.”

Saya berkata : “Engkau juga mengatakan Ash-Shiddiq?

Beliau (Abu Ja’far) lalu menghadap ke kiblat dan berkata : Benar Ash-Shiddiq, dan barang siapa tidak mengatakan Ash-Shiddiq, Allah tidak akan membenarkan ucapannya baik di dunia maupun di akhirat “.

Diriwayatkan pula dengan sanadnya dari Jabir, katanya : Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali Zayn Al-‘Abidin berkata kepadaku :

Hai Jabir, aku mendengar ada segolongan orang Iraq beranggapan bahwa mereka cinta kepada kami (Ahlul Bait) dan mencela Abu Bakar dan ‘Umar, Raddhi Allahu Anhuma. Mereka juga beranggapan akulah yang menyuruh mereka berbuat demikian. Maka sampaikanlah kepada mereka bahwa aku berlepas diri (bari’) terhadap apa yang mereka lakukan. Demi Allah dan jiwa Muhammad (Al-Bagir) ada di tangannya kalau sekiranva aku berkuasa niscaya aku akan mendekatkan diri kepada Allah dengan menumpahkan darah mereka. Dan semoga aku tidak mendapat syafa’at Muhammad SAW. jika aku tidak memohonkan ampunan dan rahmat bagi mereka, akan tetapi musuh-musuh Allah senantiasa lalai terhadap keduanya “.

Diriwayatkan pula dengan sanadnya dari Syu’bah Al-Khayyath, katanya : “Abu Ja’far Muhammad b. ‘Ali Zayn Al-‘Abidin berkata kepada saya ketika kami sedang berpamit kepada penduduk negeri Kuffah (salah satu kota di Iraq) : “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap mereka yang tidak mengakui kebenaran Abu Bakar Ash-Shiddiq dan ‘Umar Radhi Allahu Anhuma “.

Diriwayatkan pula dengan sanadnya dari Abu Ishaq dari Abu Ja’far Muhammad b. ‘Ali Zayn Al-‘Abidin , katanya : “Orang yang tidak mengakui jasa Abu Bakar dan ‘Umar sesungguhnya orang ini tidak mengakui sunnah “.

Ibnu Fudhail meriwayatkan dari Salim b. Abi Hafshah, katanya : “Saya bertanya kepada Abu Ja’far Muhammad Al-Bagir dan putranya (Ja’far Ash-Shadiq) tentang Abu Bakar dan ‘Umar. Mereka menjawab : “Akuilah dan cintailah keduanya serta berlepas dirilah dari musuh-musuh mereka, sesungguhnya keduanya adalah Imam-imam yang mengikuti kebenaran “. Al Hafidh Ad-Dzahabi menyatakan bahwa sanad riwayat ini shahih. Ibnu Fudhail dan Salim adalah tokoh-tokoh Syi’ah yang benar.

Hafsu Ibnu Ghiats berkata : “Saya mendengar Ja’far Asshadiq b. Muhammad Al-Bagir berkata: “Tiadalah aku mengharap syafa’at dari ‘Ali melainkan aku mengharap syafa’at serupa pula dari Abu Bakar”. Salim b. Abi Hafshah berkata : Saya mendatangi Ja’far b. Muhammad, menjenguk beliau ketika sedang sakit, Ja’far berkata : “Ya Allah sesungguhnya aku mencintai Abu Bakar dan ‘Umar serta mengakui rnereka sebagai pemimpin. Ya Allah, jika sekiranya di dalam hatiku ada perasaan selain demikian, maka semoga aku tidak mendapat syafa’at Nabi Muhammad SAW”. Salim ini adalah seorang yang dapat dipercaya (thigah), hanya saja dia seorang Syi’ah yang ekstrim membenci kedua sesepuh (Assyaikhain) Abu Bukar dan ‘Umar,’“. (Penulis buku ini Habib ‘Alwi b. Thahir Al-Haddad memberi komentar sebagai berikut : Keterangan terakhir yang menyatakan bahwa pembawa riwayat ini adalah seorang Syi’ah yang ekstrim malah dapat menjadi bukti yang kuat atas kebenaran riwayat ini, karena dia meriwayatkan sesuatu yang dapat menjadi alasan yang kuat bagi mereka yang bertentangan dengan dia, lagi pula dia meriwayatkannya dari Imam Ja’far Asshadiq yang diakui sebagai salah seorang imamnya. Demikian Habib ‘Alwi b. Thahir Al-Haddad. 1

Abbas Al-Hamdzani meriwayatkan katanya : “Ketika kami akan pergi meninggalkan kota Madinah, Imam Ja’far Ash-Shadiq b. Muhammad Al-Bagir datang kepada kami dan berkata “Kalian Insya Allah tergolong orang-orang terbaik di negeri kalian, maka hendaklah kalian sampaikan kepada penduduk negerimu dari aku (Ja’far Ash-Shadiq) hal-hal sebagai berikut : Barang siapa beranggapan aku ini sebagai imam yang wajib ditaati, maka aku berlepas diri dari orang itu dan barang siapa beranggapan aku berlepas diri dari Abu Bakar dan ‘Umar dan tidak mengakui rnereka sehagai khalifah yang sah, maka aku berlepas diri dari padanya”.

Dalam kitab Masyra’ Arrawiy) diriwayatkan : “Ada orang bertanya kepada Ja’far Ash-Shadiq (katanya) ada segolongan orang beranggapan orang yang mengucapkan talak (cerai) tiga sekaligus tanpa pengetahuan, maka talak itu dikembalikan kepada sunnah menjadi satu talak dan mereka rneriwayatkan dari anda “. Imam Ja’far Ash-Shadiq menjawab: “Semoga Allah melindungi kami (dari hal itu), Kami tidak pernah berkata demikian. Barang siapa rnengucapkan talak tiga (sekaligus), maka berlakulah apa yang diucapkannya”.

Muhammad b. Manshur berkata : “Saya bertanya kepada Ahmad bin ‘Isa bin Zaid, tentang seseorang yang mengucapkan talak tiga terhadap istrinya. Ahmad bin ‘Isa menjawab : “Berlakulah talak itu dan bercerailah dia dari istrinya. Kita tidak berpendirian seperti golongan Rafidhah “.

 

Tema Tesis: Biometrics May 20, 2008

Filed under: Thesis/Tugas Akhir (TA) — mudrikalaydrus @ 6:43 am

Kemampuan untuk bisa mengidentifikasikan manusia berdasarkan tanda-tanda pribadinya menjadi penting, terutama kaitannya dengan bidang security. Sidik jari adalah cara yang paling tua, walaupun sampai saat ini tetap dipakai dan terbanyak pemakaiannya.
Pengenalan wajah (Face recognition) bermanfaat untuk banyak sekali aplikasi, yang meliputi security, verifikasi personal, komunikasi via internet, dan computer entertainment.

Di tugas akhir ini diharapkan mahasiswa:
melakukan penyelusuran pustaka dan menemukan beberapa metoda penting yang telah dipakai.
Mengembangkan satu/dua metoda itu untuk diaplikasikan dengan model wajah-wajah di lingkungan sendiri, serta melakukan eksperimen untuk mem-verifikasi metoda tersebut.

Attention: Hanya untuk yang senang programming !!

All programming languages are welcome (C, Java, VB, Matlab, Scilab)

 

Itu belum tentu Syrik May 16, 2008

Filed under: z-o Islam o-z — mudrikalaydrus @ 1:11 am

HUJAN lebat turun di kota Makkah usai sholat Maghrib. Air pun turun mengerojok dari pancuran Ka’bah (Mizrab). Sebagian orang yang berdekatan dengan Ka’bah lari menuju air yang turun dari pancuran. Mereka saling bergantian mandi hujan dengan maksud mengambil barakahnya.

Tiba-tiba, seorang petugas masjidil Haram melarang keras dan mengusir mereka yang sedang asyik mandi hujan di bawah pancuran Ka’bah. Alasannya, yang mereka lakukan, katanya, adalah perbuatan bid’ah yang tidak pernah dilakukan Rasulallah saw. Tapi mereka yang sedang mandi hujan tetap ngotot tidak mau begerak. Petugas itu berteriak-teriak mengusir mereka hingga suaranya terdengar di Masjid.

Sayyid Alwi Al-Maliki (ayahnya Dr. Muhammad Al- Maliki), seorang ulama terkenal pada zamannya dan disegani oleh seluruh lapisan masyarakat Makkah, sedang duduk di tengah murid-muridnya di halaqah yang diadakan setiap lepas solat Maghrid di muka ka’bah.

Mendengar teriakan petugas itu, beliau berdiri dan memangilnya, lalu bertanya

“Apa alasan kamu melarang mereka mandi hujan dari pancoran Ka’bah?”.

Petugas itu menjawab “Itu adalah perbuatan bid’ah yang tidak pernah dilakukan Nabi saw”.

Mendengar jawaban petugas itu, Sayyid Alwi Al Maliki segera berkata dengan ramah dan senyum “Perbuatan itu tidak haram dan bukan bid’ah, akan tetapi mereka mencari “barakah”.

Bukankah Allah berfirman dalam ayat Nya

“Dan kami turunkan dari langit air yang banyak barakahnya” surat al Qaaf ayat 9.

Kemudian Sayyid Alwi meneruskan lagi, “Bukankah pula Allah berfirman dalam ayat yang lain “Sesungguhnya rumah yang mula-mula di bangun untuk tempat beribadat manusia ialah Baitullah yang di Makkah yang di-berkahi” al- Imran, ayat 96.

“Maka”, kata sayyid dengan senyum lebar, “Barakah turun di tempat yang barakah, menjadi Barkatain (dua barakah)”.

Jelasnya, mengambil barakah dari benda-benda yang dianggap suci seperti Ka’bah, air Zam Zam, atau benda-benda bersejarah lainya dari peninggalan para nabi, para sahabat nabi, orang- orang soleh, merupakan hal yang terpuji, asal saja tidak keluar dari rel- rel syariat yang telah ditetapkan Allah dan Rasul Nya.

Adapun yang dimaksud disini bukan berarti kita memuja-muja benda-benda tsb atau memuja-muja benda-benda peninggalan para nabi atau leluhur. Dan pula bukan pula berarti bahwa mereka telah menjelma pada benda-benda tsb, namun yang dimaksudkan ialah untuk mengingat jasa perjuangan mereka dan juga untuk mengingatkan ketinggian dan keluhuran martabat mereka di sisi Allah.

Sebagai contoh:  selain air suci Zamzam dan air ruqyah yaitu air yang telah dibacakan di dalamnya ayat ayat suci al-Qu’ran yang membawa rahasia penyembuhan dan keberkahan, juga benda-benda yang dianggap barakah dari peninggalan para nabi, sahabat, tabi’in dan sholihin. Benda-benda tersebut bisa pula membawa rahasia penyembuhan dan keberkahan.

Hal ini pernah dilakukan oleh seorang shohabiyah Ummu Salamah ra yang telah menyimpan beberapa helai rambut Nabi saw untuk dijadikan sebagai keberkahan dan penyembuhan. Rambut Rasulallah saw itu disimpan di dalam sebuah Juljal yang dibuat dari perak (wadah kecil yang dibuat dari perak berbentuk seperti lonceng). Ia selalu mengeluarkan rambut Rasulullah saw tetkala ada orang sakit datang kepadanya. Ummu Salamah memasukkan rambut Nabi saw ke dalam wadah berisi air. Setelah diaduk, air yang berisi rambut Rasulallah saw itu diberikan kepada yang sakit untuk diminum. Ini yang kita dapatkan dalam Hadist Nabi.

Dalam al-Qur’an tercantum kisah tabut (peti) bani Israil yang dijadikan sebagai alamat atau tanda kebenaran kerajan Thaulut. Allah berfirman “Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja ialah kembalinya tabut (peti) kepadamu di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhan mu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun. Tabut itu dibawa oleh Malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu jika kamu orang yang beriman”. al-Baqarah, 248.

Jelasnya, tabut (peti) yang dimaksudkan dalam ayat di atas bukan sembarangan tabut, tapi ia memiliki status yang mulia luar biasa, yaitu sebagai tanda kebenaran kekuasaan Thalut. Kemuliaan tabut (peti) itu, karena ia telah dibawa oleh Malaikat dan terdapat didalamnya ketenangan dan keberkahan bagi Thalut dan tentaranya. Maka mereka pun telah membawanya dalam peperangan mereka melawan musuh mereka Jalut. Allah telah menjanjikan kemenangan dalam peperangan mereka melawan musuh berkat tabut (peti) yang dibawanya.

Allah menerangkan dalam ayat Nya, bahwa tabut (peti) itu telah membawa ketenangan dan ketentraman dari Nya. Adapun isi tabut (peti) itu terdiri dari bekas-bekas peninggalan para Nabi. Yaitu apa yang telah ditinggalkan nabi Musa dan nabi Harun seperti kitab Taurat, tongkat-tongkat, baju baju, dan sandal-sandal nabi Musa dan nabi Harun. Allah telah memuliakan tabut (peti) itu karena terdapat didalamnya peninggalan nabi Musa dan nabi Harun yang disimpan dan dirawat dengan baik dan pernah dibawah oleh Malikat. Dengan seizing Allah dan berkat peti itu Allah telah memberikan kemenangan dalam peperangan Thalut melawan musuh mereka Jalut.

Kisah tabut (peti) yang disebut dalam al-Quran tadi bukan berarti kita membesar-besarkan atau mengingatkan bahwa para Nabi itu menjelma pada benda-benda pusaka trb, akan tetapi Allah memuliakan tabut (peti) itu karena kemuliaan dan ketinggian derajat mereka di sisi Nya. Atau dalam arti yang lain Allah telah mengingatkan pula perjuangan baik mereka bagi masyarakat dan ini merupakan syi’ar agama yang perlu dijaga.

Pendek kata, sebagai balasan tidakan baik nabi Musa dan nabi Harun, peninggalan mereka (peti) dijadikan benda-benda yang sangat mulia untuk mereka bawa sebagai ketenangan dan keberkahan agar mendapat kemenangan dalam peperangan mereka melawan musuh mereka Jalut.

Contoh lainnya: dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam besar Bukhari dari ibu Umar ra bahwa Rasulallah saw pernah memiliki sebuah cincin perak yang dikenakan di tangan kanan beliau.

Pada cincin itu tertulis kalimat “Muhammad Rasulallah”. Setelah beliau wafat, Sayyidina Abubakar Siddik ra mengambil cincin itu dan dikenakan di tangan kanan beliau sebagaimana Rasulallah mengenakannya. Kemudian setelah Abubakar ra wafat, cincin itu berpindah ke tangan Sayyidina Umar bin Khatab. Beliau memakai pula cincin itu sebagaimana Rasulallah saw dan Abubakar memakainya hingga beliau mati syahid dibunuh oleh Abu Lulu Almajusi. Setelah itu cincin yang pernah dikenakan Rasulallah saw berpindah ke tangan Ustman bin Afaan ra. Telah diriwayatkan bahwa cincin itu berada ditangan Ustman ra cukup lama sehingga jatuh ke dalam sumur Aris.

Shahih Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab Libas bab Khatim Fidhah (cincin perak), al-Hafidh ibnu Hajar berkata sebagaimana diriwayatkan al-Nasai “sesungguhnya cincin Rasulallah itu berada ditangan Ustman bin Affan selama enam tahun”. Adapun “sumur Aris” terletak di sebuah kebun yang berdekatan dengan masjid Quba’. Kemudian sumur itu dikenal di kalaman penduduk Madinah dan dijuluki “Bi’rul Khatim” (Sumur Cincin), yang dimaksud di sini cincinnya Rasulallah saw yang jatuh ke dalam sumur trb. Sayyidina ustman telah berusaha sekuat tenaga untuk mencari cicin Nabi saw yang jatuh ke dalam sumur akan tetapi usaha beliau sia sia belaka.

Sekarang, kenapa perhatian para sahabat Rasulallah begitu besar terhadap cincin trb. Apakah tidak ada lagi cincin yang lebih bagus dari cincin Nabi saw. Atau cincin itu mempunyai nilai harga yang mahal jika dijual. Tentu pada saat itu tidak sedikit terdapat cincin yang lebih bagus, lebih indah dan lebih mahal nilainya dari cincin Rasulallah saw. Akan tetapi apa yang membuat perhatian sahabat begitu besar terhadap cincin Rasulallah saw. Karena cincin itu pernah dikenakan di tangan kanan Rasulallah saw. Itu merupakan peninggalan sangat berharga dan benda bersejarah yang tidak bisa dilupakan oleh para sahabat Nabi saw. Cincin itu tidak mempunyai arti atau kelebihan sedikit pun jika tidak dikenakan atau diletakan di tangan kanan Rasulallah saw.

Belum habis, tunggu dulu. Ada lagi kisah tentang Harbah atau yang disebut dalam bahasa kita “tombak” yang diriwayatkan oleh Imam besar Bukhari. Sahabat Nabi, Zubair ra, telah membunuh U’baidah bin said bin Al-a’sh pada peperangan Badr dengan Harbah (tombak) yang disodoknan ke matanya. Mendengar berita itu, Rasulallah saw meminta kepada sahabat beliau, Zubair, tombak trb. Permintaan Nabi saw tidak bisa ditolak olehnya. Dengan senang hati ia menyerahkannya kepada baginda Rasulallah saw. Setelah Rasulallah saw wafat, Zubair datang kepada keluarga beliau minta untuk mengembalikan tombaknya. Kemudian Sayidina Abubakar Siddik ra datang kepada Zubair memohon kepadanya agar tombak yang pernah dipegang Rasulallah saw diberikan kepadanya. Dengan senang hati pula, ia serahkan kepada Abubakar. Setelah wafatnya Abubakar, Zubair mengambil kembali tombak itu.

Selanjutnya, Sayidina Umar bin Khattab datang meminta kepada Zubair tombak yang pernah dipegang Rasulallah dan Abubakar ra. Permintaan beliau tidak bisa ditolak dan diserahkannya kepada beliau. Tombak itu berada di tangan Umar ra sampai beliau mati syahid dibunuh. Kemudian Ustman bin Affan ra datang meminta kepadanya tombak yang pernah dipegan Nabi dan para sahabat yang mulia. Tanpa ragu-ragu, ia menyerahkannya pula kepada Ustman. Tombak itu berada di tangan beliau hingga beliau dibunuh. Kemudian berpindah setelah itu ke tangan Sayyidina Ali bin abi Thlaib ra. Mendengar berita itu, Zubair datang kepada beliau minta dikembalikan tombaknya. Sayyidina Ali langsung menyerahkan kepadanya. Tombak yang sudah berkali-kali pindah tangan kembali kepada pemilik asalnya, Zubair, hangga ia mati terbunuh dalam salah satu peperangan.

Sekarang, kenapa perhatian para sahabat begitu besar teradap tombak trb? Apakah tidak ada lagi tombak pada saat itu selain tombaknya Zubair? Kenapa perhatian mereka sedemikan besar terhadap benda itu, sedangkan banyak benda yang lebih bagus, lebih antik dan lebih kuat dari pada tombaknya Zubair. Perhatian para sahabat Nabi begitu besar terhadap tombak trb, karena benda itu pernah dipegang oleh jungjungan Nabi Muhammad saw dan dibawanya dalam peperangan beliau melawan musuh. Kemuliaan dan keberkahan tombaknya Zubair bukan karena tombaknya akan tetapi karena kemulian dan keberkahan pemegang tombak itu, yaitu baginda Rasulallah saw.

Ada lagi kisah tentang sandal Nabi saw yang telah menjadi perhatian para ilmiawan untuk dipelajari secara seksama dan teliti. Sandal itu telah menjadi bahan perhatian besar untuk dipelajari, baik dari segi sifat-sifatnya, atau dari segi bentuk, model dan warnanya. Mereka menulis hasil penelitian mereka secara rinci di dalam buku-buku mereka. Perhatian mereka begitu besar terhadap sandal Nabi saw disini dimaksudkan bukan sandalnya, akan tetapi pemiliki sandal itu yaitu Rasulallah saw.

Singkatnya, disini kita bukan memuja-muja benda-benda bersejarah atau barang peninggalan para nabi atau leluhur. Kita bukan pula untuk mengingatkan bahwa mereka telah menjelma pada benda benda trb, namum yang dimaksud disini ialah untuk mengingat jasa perjuangan mereka, dan juga untuk mengingatkan ketinggian dan keluhuran martabat mereka di sisi Allah.

Terakhir, bukankah yang kita lakukan untuk menghargai benda-benda bersejarah dan benda-benda peninggalan para Nabi, sahabatnya, dan orang orang soleh merupakan kelanjutan dalam meninggikan dan memuliakan syi’ar Islam?.

Wallahu’alam

(disunting oleh Hasan Husen Saggaf)

 

Shalawat atas Nabi May 16, 2008

Filed under: z-o Islam o-z — mudrikalaydrus @ 12:17 am

Pada salah satu hadits Rasulallah SAW bersabda,

“Disaat aku tiba di langit di malam Isra’ Miraj, aku melihat satu malaikat memiliki 1000 tangan, di setiap tangan ada 1000 jari. Aku melihatnya menghitung jarinya satu persatu. Aku bertanya kepada Jibril as, pendampingku,

‘Siapa gerangan malaikat itu, dan apa tugasnya?.’

Jibril berkata,

Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi.’

Rasulallah saw bertanya kepada malaikat tadi,

‘Apakah kamu tahu berapa bilangan tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak diciptakan Adam as?.’

Malaikat itupun berkata,

‘Wahai Rasulallah saw, demi yang telah mengutusmu dengan hak (kebenaran), sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi dari mulai diciptakan Adam as sampai sekarang ini, begitu pula aku mengetahui jumlah tetetas yang turun ke laut, ke darat, ke hutan rimba, ke gunung-gunung, ke lembah-lembah, ke sungai-sungai, ke sawah-sawah dan ke tempat yang tidak diketahui manusia.’
Mendengar uraian malaikat tadi, Rasuluallah saw sangat takjub dan bangga atas kecerdasannya dalam menghitung tetesan air hujan. Kemudian malaikat tadi berkata kepada beliau,

‘Wahai Rasulallah saw, walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan keulungan untuk menghitung tetesan air hujan yang yang turun dari langit ke bumi, tapi aku memiliki kekurangan dan kelemahan.’

Rasulallah saw pun bertanya,

‘Apa kekurangan dan kelemahan kamu?.’

Malaikat itupun menjawab,

‘Kekurangan dan kelemahanku, wahai Rasulallah, jika umatmu berkumpul di satu tempat, mereka menyebut namamu lalu bershalawat atasmu, pada saat itu aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya pahala yang diberikan Allah kepada mereka atas shalawat yang mereka ucapkan atas dirimu.’ “

Allahuma shalli a’la sayyidina Muhammadin wa a’la alihi wa shahbihi wa sallim

 

model dan simulasi intro to optimization May 13, 2008

Filed under: Lecture Model dan Simulasi 2008 — mudrikalaydrus @ 12:36 am
 

Ujian Tengah Semester May 11, 2008

Filed under: Lecture Model dan Simulasi 2008 — mudrikalaydrus @ 1:16 pm
 

Week 7 Smith Chart May 9, 2008

Filed under: Lecture Saluran Transmisi 2008 — mudrikalaydrus @ 11:07 am

Basics of Smith Chart and its basic use

 

Antenna Pekan ke 7 Last Week before Mid Exam May 9, 2008

Filed under: Lecture Antena 2008 — mudrikalaydrus @ 10:46 am

We learn Reflector antenna, principle and design

Slide:antenna_presentation07