Dear Students,
This blog’s category is conceived as communication tool between the lecturer and students attending the lecture data communication for information systems students in the fifth semester at university of Mercu Buana.
Dear Students,
This blog’s category is conceived as communication tool between the lecturer and students attending the lecture data communication for information systems students in the fifth semester at university of Mercu Buana.
Judul tulisan ini sengaja dibuat provokatif, tetapi isi tulisan diharapkan justru mempersatukan ummah, semoga.
Jika kita berdiskusi tentang, beriman atau mati dalam keadaan musyrik-kah Abu Thalib itu ?
Jawaban yang muncul: Abu Thalib mati dalam keadaan musyrik, karena ada beberapa hadits yang mendukung hal itu.
Alternatif jawaban adalah: Abu Thalib seorang yang hanif, ada juga hadits yang mendukungnya.
Uniknya kedua jawaban ini didukung oleh dua kelompok tertentu.. Jika ada orang yang mendukung jawaban kedua ia hampir pasti dicap syiah. Sedangkan kalau seseorang mendukung jawaban pertama, ia akan dicap wahabi atau an-Nawasib.
Perbedaan ini menjadi seru dan bertambah seru, karena kedua pihak saling mengeluarkan alasan-alasannya, yang bisa jadi tidak bisa meyakinkan kubu yang berlawanan dari mereka.
Apakah faedah dari ‘pertengkaran’ mengenai iman atau tidaknya Abu Thalib ?
Apakah faedahnya bagi kita dan masa depan kita dengan menekan-nekankan bahwa Abu Thalib itu wafat sebagai muslim ?, dan apa faedahnya jika kita mengulang-ngulang dalam kultum atau khutbah Jum’at bahwa Abu Thalib itu wafat dalam keadaan musyrik ?
Jagalah perasaan Al-Rasul Muhammad SAW sebagai orang yang dididik dan ‘ditemani’ oleh Abu Thalib selama bertahun-tahun. Kalau ingin bercerita tentang kemusyrikan ambillah contoh yang tidak menyakitkan dia.
Allahu ‘alam bis sawab