Dalam disiplin ilmu teknis sering kali kita melupakan bahwa kombinasi antara pengetahuan teoretis (konsep dan derivatifnya) dan pengalaman praktis merupakan suatu hal yang tidak bisa ditawar lagi. Di satu sisi akademisi, yang terutama diwakili oleh para dosen yang bekerja di universitas, memberikan pengajaran dengan segala kelebihan dan kekurangannya terutama lebih mengarah ke konsep dan teori. Sedangkan di sisi lain kebutuhan akan tenaga ahli dalam bidang tersebut di industri lebih mengarah pada pasanglah, atau produksilah sesuai dengan arahan yang diberikan “manual”, ukur atau amati performansinya, laporkan ke manajer, selesai.

Misalnya merujuk pada pengalaman penulis mengampu mata kuliah Antena dan Propagasi di Jurusan Teknik Elektro (Telekomunikasi) Universitas Mercu Buana. Teknik Antena secara historis sampai sekarang mengalami kemajuan dan kematangan akibat sinergi teori dan aplikasi. Atas dasar fakta itu kami di Telekomunikasi Mercu Buana menawarkan perkuliahan antena yang membahas

  • teori dasar: prinsip pemancaran, sifat-sifat antena, jenis antena, teori array, konsep-konsep yang melatarbelakangi teori atau pendekatan yang dipakai
  • Simulasi software:antena-antena yang diperkenalkan di item pertama di-model-kan dan disimulasikan dengan bantuan komputer. software yang digunakan commercial and in-house developed software.
  • Fabrikasi dan pengukuran: karena waktu yang sangat sempit, point ini di-spesialisasikan pada thesis mahasiswa

Para mahasiswa yang mengikuti perkuliahan ini mendapatkan kesempatan untuk memahami konsep dan implementasi teknis antena yang cukup banyak, tetapi sayangnya, menurut pengamatan kami hanya terpakai langsung dalam besaran prosentasi yang kurang dari 50%.

Salah satu alasan pentingnya adalah karena sebagian besar (kalau tidak seluruhnya) mahasiswa yang bekerja di perusahaan-perusahaan hanya mendapatkan kerja sebagai pemasang, operator dan maintainance, paling jauh trouble-shooter. Hal ini kemungkinan besar tidak akan terjadi jika mereka juga mendapatkan kesempatan untuk memproduksi antena, yang dimulai dengan proses perancangan di atas kertas, dengan melakukan variasi geometri ataupun material penyusunnya, dan diakhiri dengan pembuatan prototype serta validasinya dengan alat ukur.

OK, perkuliahan disiplin ilmu teknis, di contoh ini tentang antena,  di Universitas Mercu Buana, sama seperti halnya di universitas bonafide lainnya di dalam dan luar negri. Mata kuliah ini memiliki kontent yang standart, mungkin secara gamblang kita bilang “buka aja bukunya Balanis” itu kontentnya (yang pastinya disesuaikan dengan strata program). Seorang mahasiswa di USA, Eropa, Australia, Singapore, South Africa, bahkan Malaysia, bisa mengaplikasikan apa yang mereka dapatkan di kampus, karena di negara-negara itu industri(kebijakan pemerintah) mendukung aktifitas yang disebutkan di atas. Bagaimana dengan Indonesia ??

Pada akhirnya penulis bisa mengusulkan dua pilihan: ubah kebijakan yang lebih mendukung pengembangan hardware di dalam negri, atau ubah silabus perkuliahan yang lebih amat sangat praktikal sekali . Dari pada kuliah dan kerja gak nyambung….iya gak ?

Comments on: "Masih perlukah perkuliahan yang comprehensif ?" (6)

  1. reza fariqi(01403-029) said:

    paragraf yang terakhir bagus banget tu pak,apalagi ya di-bold-in, saya setuju banget. akademisi & industri harus kawin(membuat MOU), agar apa yang mahasiswa dapat dibangku kuliah bisa diimplementasikan di industri, supaya kuliah dan kerja nyambung….
    UMB kan lagi ngebangun besar2an,Lab elektro telekomunikasi UMB ada di gedung mana pak?🙂

  2. mudrikalaydrus said:

    he..he..he..
    Pemerintah harus care sama rakyat
    Dosen harus rajin meneliti
    Mahasiswa harus rajin kuliah dan serius ngerjain TA

    Tapi kayaknya ketiga point ini tidak terpenuhi, ya kan mas Reza ??

  3. Hehehe… kalo mahasiswa canggih malah larinya ke negara lain pak 😀

    Di Indonesia gak bisa diaplikasikan ilmunya.

  4. mudrikalaydrus said:

    Dear mas Wawan,
    gak apa2 kalo mahasiswanya masih lari ke luar negri
    ngambil ilmu di sana buat dibawa pulang
    yang penting jangan pakarnya nyang pade kabur
    iyee gak

    motto:
    the knowledge is universal, it can be and should be
    applicable anywhere

    salam…

  5. iman ramdhan said:

    semoga lab elektro telekomunikasi yang lengkap dan profesional segera terwujud, Amin.

  6. Hallo mas mudrikalaydrus, apa kabar ? masih kenal saya ? saya Pak Hoga dari UNTAG Jakarta, kapan ada lagi seminar teknik elektro telekomunikasi di universitas mercu buana ?

    From the desk of:

    Dr. Hoga Saragih, ST, MT.
    was born in Bandung, Indonesia on the 15st of August 1976. He received his Bachelor of Engineering degree in electrical engineering from Christian Krida Wacana University in 1998. He completed his Master of Electrical Telecommunication Engineering from the Department of Electrical a Engineering, University of Indonesia, in 2001. He completed his PhD of Electrical Telecommunication Engineering from the Department of Electrical a Engineering, University of Indonesia, in 2008. His research interest is in the area of mobile communication, with special emphasis on ALOHA, CDMA.
    (hogasaragih@gmail.com).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: